Eka Yuli Kurnia Putri (Putri), seorang pelajar SMK kelas 2 yang sejak tahun 2011 (kelas 5 SD) menjadi anggota TABO di Dusun Jetis, Desa Caturharjo, Kecamatan Sleman.
Pada tahun 2010, Dusun Jetis tempat tinggal Putri merupakan salah satu dusun di wilayah kecamatan Sleman yang menyumbang kejadian DBD , dengan jumlah penderita pada tahun tersebut 2 orang positif serta banyak penderita panas disekitarnya yang dicurigai menderita penyakit DBD. Tidak ada kasus meninggal akibat DBD pada tahun tersebut.

Kekhawatiran masyarakat akan terjangkitnya DBD menyebabkan permintaan dilakukan foging (semprot masal) meningkat tanpa adanya gerakan masyarakat untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tidak diketahui angka bebas jentik di masyarakat pada waktu itu, baru setelah Tim Surveilans Puskesmas melakukan pengamatan epidemiologi (PE), diketahui angka bebas jentik masyarakat rendah. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit DBD pun masih rendah.
Keadaan ini menarik perhatian Tim UKM Puskesmas Sleman yang dipelopori oleh Muslikhah, ST untuk membentuk TABO di dusun Jetis, dimana TABO sudah dirasakan berhasil menekan penyakit DBD di dusun lain. Putri yang pada waktu itu berumur 10 tahun, adalah anak yang diajak oleh petugas Puskesmas untuk direkrut menjadi kader TABO. Dengan pendekatan dan mekanisme yang dilakukan Puskesmas Sleman untuk pembentukan TABO, melalui keluarga, tokoh masyarakat akhirnya Putri dan 34 anak lainnya menjadi anggota kelompok kader TABO di Dusun Jetis Caturharjo , Sleman.
Bagi Putri ketika pertama kali masuk menjadi anggota TABO, sangat senang karena bisa banyak teman dan dapat membantu warga sekitar. Ketika SMP, putri telah menjadi anggota TABO andalan yang aktif melakukan kegiatan setiap hari minggu. Banyak pelatihan yang didapat oleh Putri yang diperoleh dari Puskesmas Sleman, tentang PHBS, pengelolaan lingkungan serta sering diajak oleh Puskesmas refreshing ke berbagai tempat wisata sambil menimba ilmu tentang kesehatan yang diberikan Puskesmas.
Ketrampilan memainkan alat gamelan semakin mahir dia mainkan, karena selepas kegiatan pantau jentik, ia dan teman-temanya melakukan aktifitas bermain karawitan dan bermacam-macam kegiatan sesuai dengan kantong kreasi tabo. Kini putri sudah menginjak kelas 2 SMK , kegiatan pantau jentik masih dia lakukan disela-sela tugas sekolahnya yang banyak. Putri senang ketika dusunnya yang dulu banyak jentiknya, sekarang menjadi dusun yang bebas jentik. Berkat keuletan Putri dan teman-temannya dalam pantau jentik setiap minggu. Sekarang dusun jetis menjadi dusun yang bebas jentik nyamuk aedes agypti dan bebas DBD.
Sekarang Putri menjadi pembina TABO bagi adik-adik TABO di dusunnya, Putri banyak menulis tentang kegiatan TABO lewat media sosial, dan Putri selalu mengatakan BANGGA MENJADI ANAK TABO.
Recent Comments