Inovasi MOTOR MAS ABASS (Monitoring Penerimaan Sampel Dahak TB menggunakan Spreadsheet) yang digagas oleh Farita Khoiriyatul Faiziyah, A.Md.AK, Tenaga Teknologi Laboratorium Medis Puskesmas Sleman, merupakan monitoring penerimaan sampel dahak TB menggunakan Spreadsheet, yang bertujuan untuk memonitoring penerimaan sampel dahak di laboratorium puskesmas Sleman. Inovasi ini sangat mudah dan murah.
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular kronis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Berdasarkan Global TB Report Tahun 2023, Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah beban kasus TBC terbanyak di dunia setelah India, diikuti oleh Cina. Dengan jumlah kasus TBC diperkirakan sebanyak 1.060.000 kasus TBC dan 134.000 kematian akibat TBC per tahun di Indonesia (terdapat 17 orang yang meninggal akibat TBC setiap jamnya).
Deteksi dini sangat penting dilakukan untuk memastikan bahwa orang yang terinfeksi TBC segera mendapatkan pengobatan sehingga penyebaran penyakit dapat dicegah. Deteksi dini dapat dilakukan dengan mengetahui gejala dan melakukan skrining TBC. Peran semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, komunitas dan masyarakat dalam pencegahan TBC juga sangat diperlukan. Penegakan diagnosis TB dan TB RO secara bakteriologis dilakukan menggunakan pemeriksaan mikroskopis, TCM, dan biakan. Di kabupaten Sleman saat ini diagnosa TB dilakukan dengan pemeriksaan TCM, singkatan dari Tes Cepat Molekuler, sedangkan untuk mikroskopis digunakan untuk pemeriksaan pasien follow up.

Untuk pemeriksaan TCM dan mikroskopis diperlukan spesimen sputum dari pasien terduga TB, maupun pasien yang sudah pengobatan TB. Kesadaran dan kesediaaan pasien untuk bersedia cek dahak masih kurang, sehingga saat petugas kesehatan memberikan pot dahak untuk menampung dahak ada kalanya pasien tidak kembali mengantarkan dahak ke laboratorium , hal tersebut kadang tidak termonitoring oleh petugas kesehatan bersangkutan.
Di Puskesmas Sleman, untuk pasien yang sudah menjalani pengobatan TB, di jadwal pasien tersebut harus cek dahak petugas TB akan menghubungi dan mengingatkan pasien untuk mengantarkan dahak ke laboratorium puskesmas, tapi pada kenyataanya beberapa pasien yang sudah merasa sembuh padahal masa pengobatan belum selesai, mereka tidak mengantarkan dahak ke laboratorium. Begitupun pasien terduga TB yang waktu ke puskesmas tidak bisa mengeluarkan dahak, sehingga baru diberikan pot dahak agar dibawa pulang, dan diberikan sampel di hari berikutnya, juga beberapa tidak kembali, hal tersebut kurang termonitoring oleh petugas.
Langkah inovasi Motor Mas Abass yaitu petugas laboratorium mencatat data pasien dari data TB 05, setiap ada pasien diberikan pot dahak di link yang sudah tersedia. Di link ini tertera keterangan pasien sudah mengirim dahak atau belum, sehingga di saat pasien belum mengirim dahak, maka pasien bisa kembali diingatkan untuk segera mengirim dahaknya. Bagi pesien yang berhalangan untuk mengirim dahak ke puskesmas maka akan dilakukan jemput bola, baik oleh petugas ataupun kader.
Link spreadsheet ini diinformasikan dan dibagikan kepada progamer TB, sehingga progamer TB juga bisa mengakses. Dengan inovasi ini harapannya bisa membantu progam TB meminilmakan pasien terduga yang loss to follow up,monitoring evaluasi dahak pasien TB ,memonitoring sampel dahak yang diterima.
Recent Comments